ABRAHAH heran bukan kepalang. Abdul Muthallib, pembesar Mekah yang menemuinya, hanya peduli pada nasib unta yang dirampas penguasa dari negeri Habsyah (Ethiopia) itu, bukan nasib Ka’bah yang hendak dihancurkan. Kata Abrahah, “Mengapa kamu hanya peduli pada dua ratus ekor untamu, tapi tak peduli pada Bait (Ka’bah) yang merupakan agamamu dan agama moyangmu, yang hendak kuhancurkan?” Abdul Muthallib menjawab, “Aku peduli pada nasib unta, karena aku pemiliknya, sedangkan Bait itu punya Pemilik yang akan menjaganya.” Inilah sekelumit dialog yang dikisahkan oleh Ibn Hisyam dalam Al-Sîrah al-Nabawiyah, satu di antara biografi tentang Nabi Muhammad yang cukup otoritatif.
Mengapa Agama Tak Butuh Dilindungi
Juni 15th, 2010 · No Comments
→ No CommentsTags: Kolom
Islam Krisis
Januari 13th, 2010 · No Comments
KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid meninggalkan pengaruh yang dalam pada saya, jauh sebelum saya menjadi penyiarnya di acara “Kongkow Bareng Gus Dur” tiap Sabtu di Utan Kayu. Pada awal tahun 1997, ketika saya baru lulus dari sebuah pesantren dan menjadi guru muda di pesantren itu, saya mengikuti sebuah pelatihan untuk guru dan santri se Jawa Timur. Sohibul bait-nya: Kajian 193 Universitas Islam Malang. Gus Dur hadir sebagai narasumber. Jujur saja waktu itu saya tak suka Gus Dur dan Nurcholish “Cak Nur” Madjid.
→ No CommentsTags: Kolom
Jinayatnya “Qanun Jinayat”
Desember 7th, 2009 · No Comments
“Qanun Jinayat” yang telah diresmikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) tak henti menyulut kontroversi, yang tak hanya datang dari luar, namun juga dari masyarakat Aceh sendiri. Gubernur Aceh sendiri pun tak kunjung menyetujuinya. Bagi Pemerintah Aceh, prosedur “Qanun” ini cacat hukum. Sementara dari sisi subtansi, argumentasi “Qanun” ini amat rapuh.
→ No CommentsTags: Kolom
Puasanya Spanduk Selamat Puasa
September 14th, 2009 · No Comments
Setiap mau masuk Ramadhan ucapan selamat datang bertubi-tubi. Baik melalui SMS atau email. Si pengirim kadang mengejutkan; bisa datang dari teman lawas yang sudah sekian lama tidak bersua, atau kawan-kawan yang berbeda agama. Mengharukan dan kadang menggelikan karena isinya macam-macam, dari pantun religi hingga gaya jenaka sembari mohon maaf. Padahal si pengirim tidak pernah berbuat salah pada saya, bertemu saja belum pernah, misalnya kenal di facebook, terasa aneh saja.
→ No CommentsTags: Kolom