MOHAMAD GUNTUR ROMLI

Quran bak jari telunjuk, amati arah yang ditunjuk, bukan dipelototi jarinya

MOHAMAD GUNTUR ROMLI header image 2
xanax onlineadderall onlineLevitraCialis

Puasanya Spanduk Selamat Puasa

September 14th, 2009 · No Comments

spanduk-ramadhan-pks.jpgSetiap mau masuk Ramadhan ucapan selamat datang bertubi-tubi. Baik melalui SMS atau email. Si pengirim kadang mengejutkan; bisa datang dari teman lawas yang sudah sekian lama tidak bersua, atau kawan-kawan yang berbeda agama. Mengharukan dan kadang menggelikan karena isinya macam-macam, dari pantun religi hingga gaya jenaka sembari mohon maaf. Padahal si pengirim tidak pernah berbuat salah pada saya, bertemu saja belum pernah, misalnya kenal di facebook, terasa aneh saja.


Berlebihankah? Mungkin saja kalau tradisi ini dipahami secara harfiyah. Pengakuan salah adalah kesadaran manusia sebagai insan yang tidak bisa lepas dari kesalakan. Sabda Nabi, <ial-insân mahallul khatha’ wa al-nisyân (manusia tempat salah dan lupa). Manusia yang berbuat salah pada sesamanya akan menerima ampunan Allah setelah ia minta maaf pada manusia.

Kesadaran ini positif—meskipun tampak berlebihan—daripada manusia yang hanya mencari kesalahan di orang lain dan merasa dirinya paling suci. Biasanya manusia jenis terakhir ini berlindung di balik dalil al-amru bil ma’rûf wa al-nahy ‘anil munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan). Ia merasa bersih dengan “membersihkan” kesalahan yang ada pada orang lain—tak jarang dengan paksaan—bukan ia membersihkan dirinya sendiri atau mengajak orang lain untuk membersihkan kesalahan itu.

Selain itu saya merasa ada yang hilang dari Puasa tahun ini dibanding tahun lalu: spanduk-spanduk dari partai politik yang biasanya memenuhi jalan-jalan Jakarta. Tahun lalu, hampir seluruh Parpol memasang spanduk ucapan selamat, satu parpol bisa memasang ratusan spanduk. Alhamdulillah tahun ini bisa dikatakan tidak ada: Jakarta indah dan bersih dari spanduk basa-basi itu.

Saya pernah iseng menulis status di facebook tentang fenomena ini. Responnya macam-macam di antaranya: “Pemilu sudah usai, tahun lalu spanduk selamat Puasa sambil kampanye terselubung”, atau “uangnya sudah habis buat Pemilu”. Benar, setiap memasang spanduk selamat berpuasa disertakan nomer urut partai di Pemilu. Saya baru sadar tahun ini Puasa memang setelah Pemilu, berarti tidak ada alasan Parpol untuk menggelar spanduk ucapan selamat Ramadhan. Tidak perlu kampanye lagi bukan?

Mohamad Guntur Romli

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo 10 September 2009.

spanduk-ramadhan.jpg

Keterangan foto: spanduk-spanduk PKS yang diambil tahun lalu, biasanya di Jakarta spanduk PKS paling banyak memasang spanduk ucapan selamat.

Tags: Kolom