Setiap Ramadhan datang, saya selalu teringat pengalaman ketika kuliah di Mesir dulu. Hampir lima tahun saya meninggalkan negeri para Firaun dan kelahiran Musa itu, namun keunikan Ramadhan di sana selalu membawa romantisme sendiri. Saya berada di Mesir dari September 1998 hingga November 2004, bukan tempo yang singkat sehingga meninggalkan pengalaman yang unik dan tidak terlupakan.
Kalau masa kecil di Indonesia menyambut Ramadhan dengan mercon dan obor, di Mesir Ramadhan disambut oleh fanush—lampu gantung yang warna-warni yang menghiasi jalan, lorong dan serambi apartemen maupun masjid. Ukuran fanush ini bervariasi, dari yang kecil hingga besar. Dulu fanush ini berbahan bakar minyak sekarang sudah berganti lampu elektrik. Aktivitas ibadah Ramadhan yang mayoritas digelar di malam hari seperti tarawih, tajahud, tadarus Quran hingga sahur tidak mengkhawatirkan gelap, karena akan ditemani oleh fanush-fanush ini yang menerangi jalan dan lorong.


Pengalaman pertama bagi mahasiswa Indonesia adalah berbuka puasa yang disediakan oleh masjid-masjid di sana. Disebut “Maidatur Rahman” (Hidangan Yang Mahapengasih). Tidak semua masjid menyediakan, namun ada masjid yang setip tahun pasti menyediakan hidangan buka puasa. Inilah masjid pavorit bagi mahasiswa Indonesia. Menyewa sebuah flat yang dekat masjid ini merupakah salah satu alasan yang sangat diperhitungkan. Senior kami yang mengajak pindah biasanya berpromosi “Tiap Ramadhan masjid dekat sini ada Maidatur Rahman-nya loh..”
Di bulan ini hampir tidak ada aktivitas masak-memasak di grup flat kami, karena buka puasa telah disediakan. Memasak yang biasanya dijadwalkan secara bergiliran mungkin hanya untuk santap sahur. Kalau ingin benar-benar tidak ingin memasak selama bukan Ramadhan caranya mengambil buka puasa di dua masjid yang berbeda. Di satu masjid disediakan bingkisan buka puasa yang bisa dibawa. Kami antri sambil membawa tas kresek. Mahasiswa Indonesia selalu diprioritaskan. Kami selalu tersenyum ketika ada penjaga masjid yang membawa tongkat dan mengusir-usir orang-orang Mesir yang memaksan mengambil jatah terlebih dahulu. Penjaga itu bilang “Hormati penuntut ilmu dan tamu kita di negeri ini!”. Ketika kami menyampaikan perasaan yang tidak enak karena terlalu diistimewakan, penjaga itu menjawab “Mereka itu rata-rata kuli, pekerja kasar, penjaga apartemen dan pengangguran, mayoritas mereka tidak puasa. Hidangan ini untuk yang berpuasa, saya tahu kalian mahasiswa orang yang taat dan pasti berpuasa.”
Setelah memperoleh jatah buka dari masjid ini, kita taroh di flat untuk makanan sahur dan pergi ke masjid lain yang menyediakan buka puasa tapi tidak bisa dibawa pulang. Hidangan buka disajikan di piring logam seperti jatah di sekolah meliter atau rumah sakit. Orang Mesir sangat paham menu utama makanan kami: nasi, bukan roti seperti makanan pokok mereka. Yang dihidangkan nasi, daging, ikan atau ayam yang dibakar atau goreng dan sayur buncis. Untuk menu pembuka biasanya diberi korma kering atau air rebusan korma yang manis rasanya.
Memburu zakat adalah pengalaman paling unik. Sebelum Ramadhan masuk, kami telah mempersiapkan berkas: memperbanyak foto copy paspor dan kartu universitas; sebagai bukti kami adalah mahasiswa asing yang resmi; alasan yang paling kuat bagi dermawan Mesir untuk memberi zakat. Setiap zakat dihibahkan selalu diminta berkas ini. Ada teman kami yang mahir mengendus masjid-masjid yang menyediakan zakat, kami juluki “intelejen zakat”. Tak jarang berita zakat hanya kabar burung. Setelah kami kejar ke lokasi yang sangat jauh ternyata nihil. Kami pun pulang sambil tertawa-tawa, badan lemas karena puasa dan berlarian, dan buru-buru cari masjid terdekat yang menyediakan Maidatur Rahman.
Ada pengalamaan nahas dari teman kami yang ditangkap intelejen Mesir saat berburu zakat. Mereka iktikaf berhari-hari di masjid Ikhwanul Muslimin (IM) sambil menunggu zakat. Senior kami selalu mengingatkan jangan dekat-dekat dengan masjid ini, karena selalu diawasi pihak keamanan Mesir—seperti zaman Orde Baru di Indonesia—namun tak jarang peringatan itu tidak diacuhkan karena biasanya masjid kelompok ini yang paling dermawan memberi zakat.
Dua hari menjelang Lebaran masjid itu digrebek oleh intelejen Mesir, kawan kami pun ikut diangkut bersama pengikut Ikhwanul Muslimin. Mereka tak bisa berkelit karena tidak membawa paspor asli. Dua kawan kami itu pun berlebaran di penjara bawah tanah. Mereka dilepaskan setelah kami menyerahkan paspor asli dua hari setelah lebaran.
Mohamad Guntur Romli
Versi pendek tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Sabtu 29 Agustus 2009