Selain aparat keamanan yang memburu pelaku teror yang mengebom Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada Jumat pekan lalu, media-media kita pun berlomba-lomba mengabarkan perkembangan terbaru. Media saling berpacu berusaha mengungkap siapa pelakunya, menayangkan gambar dan wawancara yang diklaim “eksklusif”. Di tengah taburan informasi dari media-media ini, saya membayangkan pelaku teror tersebut, atau simpatisannya, sedang tersenyum atau mungkin tertawa-tawa melihat suguhan media kita yang tak lebih dari permainan teka-teki tentang siapa pelaku dan jaringan terorisme. Memang media kita terlalu berfokus pada: mengungkap siapa pelaku aksi teror tersebut.
Pada hakikatnya tak ada yang salah dalam semangat media kita itu; berusaha menghadirkan informasi yang cepat, lengkap, dan paling akurat. Namun, apabila investigasi itu sangat minim perkembangannya, yang kita temukan: gambar dan informasi yang disuguhkan berulang-ulang, ditambah lagi dengan komentar dan pendapat yang spekulatif, kesannya terlalu dipaksakan; yang dalam imajinasi saya tadi akan direspons dengan senyuman dan tawa geli oleh para pelaku dan simpatisan aksi-aksi teror itu.
Saya tidak menganggap pelaku teror itu seseorang yang buta atau acuh tak acuh terhadap pemberitaan media, atau mereka setelah melakukan perbuatan terkutuk itu kemudian bersembunyi di kolong ranjang atau masuk ke hutan belantara dan gua-gua. Sebaliknya, mereka aktif di tengah-tengah kita, berusaha terus memperkuat dan menebarkan teror, misalnya dengan mengirim ancaman bom ke hotel-hotel dan tempat-tempat keramaian, sehingga aparat keamanan pun terburu-buru memeriksanya, dan hasilnya: nihil. Mereka juga sangat memanfaatkan media, baik dalam menyusun strategi maupun memilih sasaran dan momentum yang mudah diliput oleh media, sehingga mereka bisa menghindar dari kejaran aparat keamanan melalui perkembangan media.
Namun, di tengah semangat media kita itu, saya tak melihat ada usaha investigasi khusus yang jauh melampaui usaha polisi. Berkat kedekatan jurnalis tertentu dengan polisi, medianya akan menerima fasilitas mengakses kabar dan gambar teranyar. Padahal, menurut saya, terdapat tugas media yang penting selain mengabarkan informasi, yakni memberikan sikap dan efek jera kepada pelaku dan simpatisan aksi teror ini. Kalau media kita hanya memberitakan permainan “petak-umpet” antara polisi dan pelaku teror, atau seperti mengisi huruf-huruf dalam teka-teki silang untuk inisial pelaku teror, jika hal ini diteruskan, media kita tidak berperan apa-apa.
Kita sering bertanya, mengapa negeri jiran kita, misalnya Malaysia dan Singapura, sepi dari aksi teror ini? Mungkin saja sistem keamanan dan kondisi rezim politik yang tertutup membuat negeri jiran itu tidak bisa ditembus oleh aksi teror. Namun, saya kira, di dua negeri ini para teroris tidak akan mendapat dukungan, baik dari masyarakat maupun liputan media, tidak seperti di Indonesia. Di negeri ini, para teroris bisa memperoleh kader baru, dukungan fatwa agama, liputan media tertentu yang membela mereka, organisasi yang memberikan santunan dana untuk keluarga mereka, hingga jaringan-jaringan konvensional yang menyembunyikan mereka. Jumlah mereka memang kecil, namun akibat yang dihasilkan sangat membahayakan. Namun, dukungan ini baik langsung maupun tak langsung adalah potensi bagi aksi teror di Indonesia.
Seyogianya media kita, di tengah misteri pelaku teror ini, lebih mengarah pada pemberitaan yang lebih berperspektif pada suara keluarga korban dan mereka yang selamat dari pengeboman (survivor). Suara-suara mereka sangat penting untuk memberikan efek jera kepada pelaku dan simpatisan aksi teror, atau mungkin bagi mereka yang masih memiliki niat hingga kemiripan ideologi dengan mereka namun belum melakukan tindakan kekerasan. Aksi terorisme tidak pernah benar-benar menusuk sasarannya, yang mereka klaim sebagai Barat, misalnya. Yang menjadi korban adalah negeri kita Indonesia, saudara-saudara negeri ini, atau saudara-saudara kita yang dari warga negara lain; orang-orang sipil yang tidak berdosa.
Suara keluarga yang disangka pelaku bom juga layak diberitakan; kebingungan, kesedihan, dan tekanan yang mereka hadapi karena salah seorang keluarganya terlibat dalam aksi keji itu. Saya juga tak habis pikir bagaimana mungkin seorang ibu tidak bisa bertemu dengan anak dan menantunya selama empat tahun, padahal mereka dipisahkan oleh jarak yang tak terlalu jauh. Kalau informasi ini benar, betapa menderitanya jiwa keluarga yang salah seorang anggotanya terlibat sehingga tak berani pulang. Namun, kalau informasi ini tidak benar, keluarga itu terpaksa melakukan perbuatan yang dibenci oleh mereka yang punya nurani: berbohong ke khalayak umum di negeri ini.
Tak hanya korban bom pada saat ini, namun juga korban-korban dari peristiwa bom di masa lampau. Bagaimana tindakan destruktif ini mengubah secara drastis haluan dan nasib hidup mereka, dan memberikan beban penderitaan seumur hidup. Selain itu, para mantan aktivis, pelaku, atau mereka yang pernah terlibat atau membantu jaringan ini perlu disimak alasannya mengapa mereka “bertobat”. Saya menemukan bahwa orang-orang yang telah mengoreksi ideologi kekerasan mereka jauh lebih banyak dari mereka yang tertarik untuk ikut aksi. Tak ada yang ingin sepanjang hayatnya bersembunyi, dikejar-kejar polisi, diinterogasi, menerima reaksi lebih buruk, yang tak hanya menimpa dirinya namun juga keluarganya terutama istri dan anak-anaknya. Masa depan keluarga mereka gelap dan dalam ancaman sanksi sosial.
Lebih dari itu, bagaimana alasan-alasan pelaku teror itu dilegitimasi, baik dari sisi doktrin maupun sanksi sosial dari masyarakat terhadapnya. Kutukan, kecaman, penolakan, dan penyisihan akan diterima pelaku dan simpatisan itu. Doktrin-doktrin yang mereka telan–yang umumnya doktrin agama–tak lebih dari kejahilan mereka memahami doktrin tersebut. Dan umumnya pelaku dan simpatisan aksi teror tidak memiliki pengetahuan agama yang baik dan cukup, atau mereka buta-makna terhadap hakikat ajaran-ajaran agama yang diturunkan oleh memuliakan martabat manusia.
Saya membayangkan apabila pelaku dan simpatisan teror itu menyaksikan media kita dan tanggapan masyarakat negeri ini, maka mereka akan menyaksikan siaran dan reaksi yang mengerikan dan teror balik terhadap mereka. Inilah yang perlu kita lakukan untuk melawan aksi-aksi teror ini dengan cara menteror terorisme itu. *
Mohamad Guntur Romli
Koran Tempo Edisi 25 Juli 2009