Pidato Presiden Ameria Serikat Barack Obama di Universitas Cairo Mesir (4/6) menggetarkan. Obama menyebut tiga kali nama Indonesia untuk memperkuat latar belakangnya dan pengalamannya bahwa ia mengetahui Islam. Islam di Indonesia menjadi rujukan Obama sebagai Islam yang menjamin kemerdekaan beragama dan persamaan hak perempuan. Dan Obama mengucapkan “assalamu’alaikum” untuk memulai pidatonya. Obama juga mengutip dari Taurat, Injil dan al-Quran untuk mendukung pernyataan soal perdamaian dan kebhinnekaan. Misi utama dari pidato itu untuk memulihkan citra Amerika dalam Dunia Islam. Maklum sebelum ini hubungan Amerika dengan Dunia Islam sangat terpuruk di era kepemimpinan George W Bush.
Apabila kawasan tersebut dijadikan representatif Dunia Islam akan memperkuat pencitraan Islam penuh dengan konflik dan kekerasan. Misalnya kekerasan yang terjadi di Irak antara penganut Sunni dan Syiah; antara pengikut Hizbullah yang Syiah dengan Gelombang Masa Depan (al-Mustaqbal) pimpinan Saad al-Hariri yang Sunni di Libanon; antara Hamas dan Fatah di Palestina. Padahal pihak-pihak yang bertikai itu mengkleim menganut satu agama dan berasal dari satu puak. Penisbatan dunia Islam pada praktik politik umatnya yang tak sepi dari kekerasan akan melahirkan pencitraan bahwa Islam adalah agama penuh konflik. Demikian juga relasi antara Islam, demokrasi, dan kebebasan sipil amatlah buruk di negeri-negeri itu, dari negara yang berpegang teguh pada monarki-absolut (mayoritas berada di kawasan Teluk) hingga rejim otoriter-korup yang mengatasnamakan demokrasi (misalnya Mesir dan Suriah).
Dengan menisbatkan Dunia Islam hanya pada kawasan Timur Tengah secara tak langsung membenarkan tesis Samuel Huntington tentang “benturan antar-peradaban”. Karena selama ini tak jarang kebijakan Amerika bertubrukan dengan pihak-pihak di Timur Tengah. Untuk menghindar dari pemahaman yang sangat dangkal ini perlu adanya perubahan pandangan dengan tidak secara otomatis menunjuk kawasan Timur Tengah sebagai representasi dan pusat Dunia Islam.
Meski pidato Obama mengulas tujuh agenda yang berhubungan dengan Dunia Islam, namun yang terpenting adalah agenda konflik Arab-Israel, khususnya Palestina-Israel dan isu nuklir Iran. Agenda-agenda lain “bunga”nya saja. Kebijakan Obama di Timur Tengah akan kembali memprioritaskan konflik Israel-Palestina. Berbeda dari kebijakan pendahulunya George Bush yang lebih memilih Irak. Palestina memang menjadi isu terpelik di Dunia Islam, sayangnya sering mengalahkan isu kemiskinan dan keterbelakangan—ini juga soal representasi: Palestina diyakini sebagai masalah utama Dunia Islam. Isu ini mudah dijadikan alat politik dan konflik, khususnya bagi pihak yang masih terperdaya oleh ilusi bahwa kemerdekaan di abad ke-21 ini bisa diraih dengan peperangan bukan diplomasi.
Arab Saudi dan Mesir adalah dua negara penting bagi Amerika, karena memiliki pengaruh yang kuat terhadap negara-negara jirannya. “Memegang” Saudi berarti “memegang” negara-negara Teluk lainnya yang kaya minyak. Arab Saudi juga salah satu negara Arab-Teluk yang menerima pangkalan meliter Amerika selain Qatar, Kuwait, Bahrain dan Oman. Sementara Mesir memiliki populasi penduduk terbesar di negara Arab dan menguasai kendali politik Liga Arab. Mesir juga terletak di posisi yang strategis, memiliki perbatasan dan hubungan langsung dengan pihak-pihak yang terjebak konflik: Israel verus Palestina, ataupun konflik internal Palestina: Hamas versus Fatah.
Sejauh pengamatan saya dalam menyikapi konflik Arab-Israel, Obama telah menempuh jalur yang tepat. Pertama, Obama telah menekan Israel melalui perdana menterinya Benyamin Netanyahu yang mengunjunginya di Gedung Putih dua pekan lalu untuk menghentikan pembangunan pemukiman di Tepi Barat. Obama juga mendesak agar pemerintahan Israel saat ini yang berasal dari koalisi Kubu Kanan yang anti-perdamaian untuk menerima opsi “dua negara” (Israel dan Palestina yang berdaulat). Artinya Israel harus mengakui kemerdekaan Palestina dan pembagian Jerusalem: Jerusalem Barat ibu kota Israel, dan Jerusalem Timur (al-Quds) ibu kota Palestina. Di media-media massa Israel dan Arab saat ini diberitakan bagaimana reaksi pemerintah Israel yang kalang-kabut menerima tekanan Obama ini. Harian Haaretz juga mengabarkan pada pekan lalu, utusan Israel berada di bawah tekanan George Mitchell utusan Obama untuk Timur Tengah dalam sebuah perundingan di London Inggris untuk menghentikan segera pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat. Dalam pidato tersebut Obama menekankan kembali dukungannya terhadap berdirinya negara Palestina.
Kedua, kunjungan Obama ke Mesir dan Arab Saudi merupakan bentuk dukungan penuh terhadap dua negara ini yang disebut sebagai poros kubu “moderat” di Timur Tengah. Selama ini dukungan Amerika yang membabi-buta terhadap Israel telah menyudutkan kubu yang pro-perundingan ini dan menguatkan popularitas kubu Iran (Suriah, Hizbullah dan Hamas). Kesewenang-wenangan Israel dibalas reaksi lebih keras dari lawan-lawannya. Akhirnya ikhtiar perdamaian pun terbelengkalai. Dan konflik itu seperti labirin tak berujung. Kubu “moderat” ini pula pihak yang paling terancam oleh ambisi nuklir Iran.
Ketiga, agenda tak langsung yang berkaitan dengan konflik di sana Obama menyebut agenda lain: demokratisasi, persamaan hak perempuan dan kebebasan beragama. Agenda yang sangat krusial di Timur Tengah hingga di negara-negara sekutu Amerika seperti Saudi dan Mesir. Tema-tema ini menjadi semacam sindiran Obama bagi mereka. Obama juga menyebut nama negara lain selain Indonesia seperti Pakistan dan Bangladesh untuk membuktikan bahwa umat Islam mengakui persamaan hak perempuan. Namun ketiga negara ini sebagaimana negara-negara yang memiliki mayoritas penduduk muslim yang berada di Asia Selatan dan Asia Tenggara tidak pernah dianggap penting keislamannya di Timur Tengah. Islam di kawasan ini selalu dituding sebagai Islam yang tidak “murni” karena dianggap bercampur-baur dengan budaya lokal. Namun justeru di sinilah Islam hadir dengan wajah yang toleran dan simpatik. Ketika citra Islam diperburuk melalui kemarahan-kemarahan di Timur Tengah, Islam di kawasan Asia Selatan dan Tenggara menyuguhkan keramahan-keramahan Islam. “Islam Indonesia” adalah pencitraan positif bagi Dunia Islam.
Dalam menyikapi konflik di Timur Tengah, paling tidak bagi saya Obama telah memulai sikap yang tepat: menekan kubu Kanan Israel yang anti-perdamaian untuk memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan negara Palestina. Obama juga mendukung pihak-pihak di kawasan Timur Tengah yang pro-perdamaian sekaligus menyindirnya. Dan yang lebih penting lagi, pidato dan kebijakan luar negeri Obama amatlah berbeda dari kebijakan pendahulunya. Melalui pidato itu, Obama telah memberikan harapan dan janji, namun yang paling diharap: janji-janji itu menjadi bukti.
Mohamad Guntur Romli
Penggiat di Komunitas Salihara
Koran Tempo Rabu 10 Juni 2009
Keterangan kartun: diambil dari huffingtonpost.com, dua gambar Obama dan Bush. Bush memang papan bertuliskan “Limadza yukrihuunana?” (Mengapa mereka (Arab dan Islam) membenci Kita?” Sedangkan Obama memegang papan bertuliskan “Limadza yuhibuunana?” (Mengapa mereka (Arab dan Islam) mencintai Kita?”