MOHAMAD GUNTUR ROMLI

Quran bak jari telunjuk, amati arah yang ditunjuk, bukan dipelototi jarinya

MOHAMAD GUNTUR ROMLI header image 2
Viagra online
XANAXadderall onlineLevitraPuppies for sale

Obama, Palestina, dan Timur Tengah

Januari 21st, 2009 · No Comments

karton-obama.jpgObama dilantik menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat tanggal 20 Januari. Kebijakan luar negerinya ditunggu dunia, khususnya yang berpusat di kawah konflik: Timur Tengah. Kawasan ini telah jenuh dan jatuh apatis disebabkan kebijakan Bush. Kini tebersit harapan damai melalui Obama.

Meskipun demikian, media dan para analis politik di kawasan ini merespons dengan beragam pendapat: ada yang optimistis, tetapi lebih banyak yang pesimistis. Pihak yang pesimistis mendedahkan fakta terakhir, dalam menyikapi keberingasan militer Israel yang meluluhlantakkan Jalur Gaza, Obama malah hemat bicara. Ia hanya menegaskan kekhawatirannya soal korban sipil yang berjatuhan di kedua pihak—tetapi Obama tidak eksplisit menyebutkan korban di Palestina jauh lebih banyak. Ia berjanji akan berbuat banyak setelah dilantik.

Al Jazeera, kantor berita televisi terbesar di Timur Tengah yang sangat anti-Bush dan Israel serta pro-Hamas, menegaskan ”keunikan” Obama: seorang presiden pertama AS dari keturunan Afrika yang berkulit hitam, berasal dari keluarga Muslim (ayahnya) dan menghabiskan masa kecilnya di sebuah negara Muslim terbesar di dunia: Indonesia (aljazeera.net, 5/11/2008).

Pertanyaan selanjutnya adalah, seperti yang diajukan Saad Mahyu, seorang kolumnis dari Lebanon, apakah Obama akan membuat perubahan di dunia, seperti ia telah menciptakan perubahan di dalam negerinya: presiden pertama AS dari kalangan kulit hitam?

Berlebihan

Pertanyaan ini jelas berlebihan dengan menuntut sangat banyak dari Obama, seolah-olah perubahan yang ”harus” dilakukan oleh Obama di dunia internasional sebanding lurus dengan perubahan di dalam negerinya. Obama tetaplah presiden AS yang akan menentukan kebijakan luar negerinya tidak keluar dari garis kepentingan nasional Amerika.

karton-obama.jpgKetika Obama melontarkan kritik yang pedas pada kebijakan luar negeri Bush di Irak, dengan menuntut penarikan mundur tentara Amerika secara bertahap, bukan berarti Obama cenderung membela rakyat sipil Irak. Bagi Obama, kebijakan Bush yang kasar di kawasan Timur Tengah semakin membahayakan keamanan nasional Amerika, yang akan mengundang reaksi lebih keras dari lawan-lawannya.

Bernama lengkap Barack Hussein Obama dari nama Arab-Islam. Barack bisa berasal dari barrâk (yang dilimpahi berkah) atau baraq (kilat)—seperti Ehud Barak yang sebelumnya bernama Ehud Brog setelah masuk militer diubah jadi ”Barak” yang dalam bahasa Ibrani berarti kilat. Adapun Hussein sudah masyhur adalah nama Arab.

Obama juga diberitakan memiliki kedekatan dengan tokoh- tokoh Palestina di Amerika, seperti Rashid Khalidi yang dikabarkan pernah menggalang dana untuk Obama ketika mencalonkan diri sebagai senator di Illinois. Konon pula, Obama sering hadir dalam kuliah-kuliah cendekiawan besar Palestina: mendiang Edward Said.

Namun, kedekatan Obama dengan tokoh Palestina di Amerika tidak sebanding dengan kedekatan Obama dengan tokoh atau organisasi lobi Yahudi. Sehari setelah ditetapkan menjadi calon presiden dari Demokrat awal Juni 2008, Obama berpidato di majelis The American Israel Public Affairs Committee (AIPAC)—sebuah organisasi pelobi Yahudi di Amerika yang sangat berpengaruh—untuk menepis keraguan dukungan Obama terhadap negara Israel. Bukti dukungan itu dilanjutkan dengan kunjungan Obama ke negara Israel sebulan setelah itu.

Namun, apabila dibandingkan dengan presiden-presiden AS sebelumnya, Obama memiliki informasi dan kedekatan emosi yang lebih banyak tentang Islam, Arab, dan konflik di Timur Tengah. Kedekatannya dengan lobi Israel bisa dipahami. Siapa pun yang menjadi presiden AS tidak bisa menghindar dari segala bentuk lobi negara mana pun. Yang patut dipersoalkan, mengapa tidak ada lobi tandingan dari organisasi Islam atau Arab?

Jalur diplomasi

Kedekatan Obama dengan tokoh Yahudi dan Palestina di Amerika bisa menjadi modal Obama untuk menyikapi konflik lebih arif antara Israel dan Palestina. Obama juga menegaskan dukungannya pada prinsip ”dua negara (Israel dan Palestina) yang hidup berdampingan dengan damai”. Obama juga berjanji memilih jalur diplomasi, bukan konfrontasi.

Harapan juga datang dari rakyat Palestina dan penduduk Israel yang bermukim di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Survei yang dilakukan Pusat Penelitian dan Kajian Politik Palestina di Ramallah, Tepi Barat, menunjukkan, 57 persen rakyat Palestina dan 49 persen penduduk Israel menginginkan Obama melakukan peran yang lebih besar terhadap proses perdamaian di Timur Tengah (asharq alawsat, 17/12/2008).

Obama akan memprioritaskan konflik Israel-Palestina dibandingkan Irak dengan menyertakan langsung Suriah. Setelah isu Israel-Palestina, nuklir Iran akan menempati perhatian Obama berikutnya dan ikrar Obama adalah dialog dan diplomasi dengan Iran.

Di Timur Tengah, Obama akan menghadapi tiga persoalan serius. Pertama, di kawasan ini telah bercokol poros Iran, Suriah, Hezbollah, dan Hamas yang keberadaannya perlu dicermati meskipun mereka bersikap keras dan tanpa kompromi kepada siapa pun pemimpin Amerika. Kedua, negara sekutu Amerika, seperti Mesir dan Arab Saudi—yang selama ini menjadi penyeimbang kekuatan di Timur Tengah—dirundung korupsi dan otoritarianisme yang akut. Kondisi ini akan merugikan citra Obama dan dituding menggunakan ”standar ganda” dalam upaya demokratisasi di Timur Tengah. Ketiga, kebengalan militer Israel yang sering menciptakan kondisi di Timur Tengah semakin amburadul. Mampukah Obama mengendalikan Israel dan menggiringnya ke meja perundingan?

Tiga tantangan serius ini menempatkan Obama pada posisi yang sangat rumit dan dilematis. Namun, Obama tidak bisa lari dari kenyataan ini karena bukan hanya perdamaian dan bencana kemanusiaan yang akan semakin memburuk apabila gagal, taruhannya adalah kepentingan nasional Amerika.

Apakah Obama akan berhasil? Hanya hari-hari mendatang yang akan memberikan kita jawabannya.

Mohamad Guntur Romli

Sumber Kompas, 21 Januari 2009

Keterangan kartun: diambil dari koran harian di Jordania, yang tulisannya Obama “dukhul” (masuk) Bush “khuruj” (keluar)

Tags: Kolom

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

You must log in to post a comment.