TAK ada sastrawan Mesir yang gila kafe melebihi Naguib Mahfouz. Kakek kelahiran 1911 di Abbasea, Kairo, ini menghabiskan hampir seluruh umurnya di kafe. Mulai kafe rakyat di tempat kelahirannya, Abbasea, Husein, hingga Kasino Kafe Kasr Nil dan Kafe Ali Baba di bundaran Tahrir. Seandainya Naguib tidak dimakan usia dan tidak ada fundamentalis yang mencoba membunuhnya, niscaya hingga kini ia masih kongko-kongko di kafe.
Sejak mengalami upaya pembunuhan pada 1994, Naguib tidak lagi berani duduk di kafe-kafe tepi jalan. Dia pindah ke kafe-kafe hotel berbintang lima dan kapal pesiar di Sungai Nil. Kapal pesiar yang sering dikunjunginya adalah Farah Boat. Jika tak keluar rumah, sosok tua itu kini menghabiskan hari-harinya di sebuah kamar rumahnya yang diberi nama “kafe”.
Kafe tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Naguib Mahfouz. Karya-karya terpentingnya seperti Qashr Syawq (Istana Rindu), al-Sakariyah, dan Bayna Qashrayn (Antara Dua Istana) lahir di kafe. Di Kafe Opera yang berornamen Eropa, Naguib memulai forum sastranya sejak tahun 1940, setiap Jumat, jam 10.00-13.00.
Menurut kritikus sastra Jamal al-Ghaythani, forum sastra tersebut banyak dihadiri sastrawan senior dan junior. Dari forum ini, kelak lahir generasi sastrawan Mesir angkatan 1960-an. Selepas diskusi di Kafe Opera, Naguib dan teman-temannya akan melanjutkan obrolan di salah satu kafe rakyat di Azbakia.
Pada 1962, forum sastra Kafe Opera dilarang aparat keamanan. Dua tahun kemudian, Naguib memulai forum sastranya di Klub Qishshah, namun hanya bertahan beberapa minggu. Lalu pindah ke Kafe Sphinx di depan Bioskop Radio. Kafe ini kemudian berubah jadi toko sepatu. Naguib pun kemudian pindah ke Kafe Riche.
Menurut Magdi Abd Mullak, pemilik Kafe Riche, forum sastra Naguib bertahan selama 17 tahun. Tradisi Naguib ini dipertahankan sampai sekarang. Tiap hari Jumat jam 10 pagi, Magdi menggelar acara “sarapan sastra” bersama kalangan sastrawan, wartawan, dan penulis Mesir.
Setelah 17 tahun bersama Kafe Riche, Naguib terpaksa pindah Kafe Kasr Nil karena pemerintah menutup Riche setiap hari Jumat. Naguib terkenal sosok yang akrab, penuh humor, dan familiar. Setiap pengunjung kafe pasti mengenali tawa Naguib yang terbahak-bahak. Naguib menyediakan hari Kamis untuk bertemu teman-teman lamanya.
Dalam bukunya, Haraiq al-Kalam fi Maqahi al-Qahirah (Kobaran Kata di Kafe-kafe Kairo), Naguib menulis pengakuannya tentang kehidupan kafe. “Selain Kafe Qasytamar, Arabi, dan El-Fishawi untuk menjumpai teman-teman lama, aku juga sering mengunjungi beberapa kafe lain, bertemu kalangan sastrawan dan intelektual,” tulis Naguib.
Naguib sering duduk di Kafe Ummi Kultsum, bundaran Arabi. Di musim panas, ia berjalan kaki dari rumahnya menuju kafeteria Hotel Shahr Zad untuk minum teh dan membaca koran pagi. Naguib punya kesan berbeda antara kafe rakyat dan kafe Eropa. “Jika pergi ke kafe rakyat, kamu tidak butuh teman. Kamu akan banyak menemukan teman ngobrol,” katanya.
Sedangkan pada kafe lain, seperti kafe bergaya Eropa, Naguib berpesan, “Jika kamu pergi sendiri, maka kamu akan sendirian sepanjang waktu.” Kafe-kafe di tengah kota Kairo, bagi Naguib, adalah tempat berjanji dan menunggu teman-temannya sebelum pergi ke bioskop dan teater. Ia pernah menulis skenario film yang disutradarai Salah Abu Saif di kafe Taryabon di Iskandariyah, serta menulis skenario film Raya wa Sikkina di Kafe Galemo Nobolo.
“Novel-novel karyaku tidak bisa aku tulis kecuali di atas meja, baik di rumahku maupun di kantorku,” tulis Naguib. “Tetapi aku sering mencari ide dan alur cerita novel sewaktu duduk-duduk di kafe, kemudian aku menulisnya sewaktu pulang.” Kafe yang paling banyak memberinya ilham, ide, dan alur cerita karya-karyanya adalah Kafe El-Fishawi.
Menurut Dr. Adil Mohamed Atha Ilyas, penulis disertasi tentang karya Naguib, al-Lishsh wa al-kilâb (Pencuri dan Anjing-anjing), mengutip pernyataan Naguib bahwa universalitas (al-’âlamiyah) dimulai dari lokalitas (al-mahalliyah). Novel-novel Naguib semuanya bercerita tentang peristiwa dan tempat sekelilingnya. Kafe, bagi Naguib, menyajikan miniatur masyarakat sekitarnya karena di sanalah bertemu segala lapisan masyarakat.
Samir Sarhan: Dari Kafe Indiana ke Universitas Indiana
PROYEK buku murah Pemerintah Mesir dengan moto “Membaca untuk Semua Kalangan” tak lepas dari peran Dr. Samir Sarhan, Ketua Lembaga Umum Buku Mesir. Sastrawan Mesir ini berhasil memasyarakatkan buku dan tradisi membaca. Di tangan Samir pula, Pameran Buku Internasional Mesir diadakan tiap tahun.
Tahun 1980-an, Samir menerbitkan biografinya berjudul, ‘Ala Maqha al-Hayah (Di Kafe Kehidupan). Pilihan judul ini memiliki alasan tersendiri. Samir, sebagaimana Naguib Mahfouz, menghabiskan sebagian besar usianya di kafe-kafe. Pengenalannya pada dunia sastra dimulai dari Kafe Abdullah di bundaran Giza, tahun 1950-an.
Ketika itu, Kafe Abdullah menjadi ajang pertemuan para sastrawan dan kritikus sastra: Abd Kadir el-Kit, Lewis Iwadl, Anwar al-Ma’dawi, Salah Abd Sabur, Mahmud al-Sa’dani, dan lain-lain. Diam-diam, Samir yang baru berumur 16 tahun mengamati keasyikan mereka berdiskusi. Samir ingin sekali masuk komunitas itu dan berdiskusi.
Tapi, Samir sadar ia belum punya satu karya pun. Namun, Samir terus menguping pembicaraan para sastrawan itu tentang sastra Arab dan Barat. Dalam banyak segi, Samir cukup paham karena banyak membaca sastra Arab dan Barat. Maka, tekad Samir untuk bergabung pun makin kuat. Samir mulai menulis cerita pendek dan menerjemahkan beberapa cerpen asing.
Karya pertama Samir diberi judul Tujuh Mulut. Setelah merasa cukup baik, Samir pergi ke Dar al-Fikr al-Arabi, penerbit ternama waktu itu. Pemilik Dar al-Fikir al-Arabi, Abd Munim, jelas tidak mau gegabah menerbitkan karya orang yang belum terkenal. Munim hanya mau menerbitkan bila karya Samir diberi pengantar kritikus sastra terkenal waktu itu, Anwar al-Ma’dawi.
Samir bergegas ke Kafe Abdullah dan menyerahkan karyanya kepada Anwar al-Ma’dawi untuk dikaji dan diberi pengantar. Anwar terkejut. Pemuda yang sering dilihatnya memperhatikan pembicaraan sastrawan tersebut datang membawa karya. Anwar berjanji mempelajari naskah Samir dan akan memberi pengantar khusus.
Janji Anwar ditepati. Akhirnya, Tujuh Mulut diterbitkan Dar al-Fikir al-Arabi. Dengan terbitnya karya pertama tersebut, Samir merasa telah hidup seratus tahun! Sejak itu, Samir menjadi bagian komunitas sastrawan Kafe Abdullah. Setelah berkali-kali mengikuti diskusi, dia merasa masih bodoh. Itu membuatnya makin semangat membaca dan berkarya.
Suatu hari, komunitas Kafe Abdullah pindah ke Kafe Indiana di Dokki, tidak begitu jauh. Bedanya, Kafe Abdullah terletak di bundaran Giza yang dikelilingi masyarakat kelas bawah. Sedangkan Kafe Indiana dikepung masyarakat kelas menengah dan atas.
Bagi Samir, perpindahan itu berarti perpindahan dunia. Perpindahan ide dan inspirasi. Masyarakat yang datang membawa permasalahan berbeda dari kafe satu dengan kafe lain. Letak kafe dan pengunjung kafe sangat menentukan kehidupan di dalamnya.
Masa muda Samir berbeda dengan pemuda Mesir lain yang lebih menyukai tempat hiburan dan bioskop. Samir menghabiskan masa mudanya berdialog dengan para sastrawan dari kafe ke kafe. Setelah menamatkan S-1 jurusan sastra Inggris di Universitas Kairo, Samir pun mendapat beasiswa melanjutkan studi di Amerika Serikat.
Samir terkejut karena ditempatkan di Universitas Indiana, nama yang sangat familiar dengannya. Perpindahan hidup kembali dijalani Samir dari Kafe Indiana ke Universitas Indiana. Toh, kehidupan Samir di Amerika tidak berubah, banyak dihabiskan membaca buku di kafe-kafe.
Tidak banyak kesan yang didapat kecuali dia bisa membaca buku sastra sebanyak-banyaknya. Setelah tamat, Samir kembali ke Mesir. Tempat yang dia kunjungi lebih dahulu adalah kafe-kafe yang pernah mempertemukannya dengan para sastrawan Mesir.
Mulailah Samir Sarhan mengawali kehidupannya seperti semula, berdiskusi, mencari ide dari kafe ke kafe. Kafe Abdullah di Giza, Kafe Indiana di Dokki, dan Kafe Riche di bundaran Tal’at Harb. Bagi Samir, kafe adalah kehidupan itu sendiri. Dari kafe dia merasa banyak belajar tentang kehidupan dan mendapatkan inspirasi.
Mohamad Guntur Romli (Kairo)
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
You must log in to post a comment.