MOHAMAD GUNTUR ROMLI

Quran bak jari telunjuk, amati arah yang ditunjuk, bukan dipelototi jarinya

MOHAMAD GUNTUR ROMLI header image 2
Viagra online
XANAXadderall onlineLevitraPuppies for sale

Kafe Riche, Ummi Kultsum dan Mahfouz

Desember 14th, 2007 · No Comments

umm-kulthoum.jpgDikenal sebagai kafe sastra, Kafe Riche merekam perjalanan sosial-politik Mesir. Salah satu pusat kendali revolusi. Tempat Ummi Kultsum menggelar konser perdana.

KAFE Riche, Kairo, 29 April 2004. Jarum jam menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat. Ketika Gatra memasuki pintu kafe, Magdi Abd Mullak, menyambut dengan senyum ramah lalu mempersilakan duduk. “Sebentar lagi acara dimulai,” kata pemilik kafe itu sambil terus menyapa tamu lain yang mulai berdatangan.

Malam Jumat itu, Kafe Riche punya gawe istimewa: peringatan tahunan (haul) wafatnya sastrawan Mesir, Yahya Hakki. Seorang pelopor penulisan cerita pendek dalam sejarah sastra Mesir. Seremoni itu dilengkapi dengan peluncuran enam novel Mesir yang baru diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Yaitu, The Lamp of Umm Hashim karya Yahya Hakki, Clamor of The Lake karya Mohamed el-Bisatie, Nile Sparrows karya Ibrahim Aslan, Zaat karya Sonallah Ibrahim, Chaos of The Senses karya Ahlam Mosteghanemi, dan The Polymath karya Bensalem Himmich, peraih The Naguib Mahfouz Medal for Literature.

cafe_riche-cairo.jpgSemuanya diterbitkan American University in Cairo (AUC) Press. Direktur AUC Press, Mark Linz, dalam sambutannya menandaskan lembaganya telah banyak menerjemahkan karya sastra Mesir. Antara lain karya Naguib Mahfuoz, Tawfik Hakim, dan Thaha Husein. Mark memilih Kafe Riche sebagai tempat peluncuran, karena kafe ini memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Mesir.

Acara pun dilanjutkan dengan sambutan para sastrawan yang bukunya diluncurkan malam itu. Seperti Ibrahim Aslan dan Mohamed el-Bisatie yang memiliki kenangan indah bersama Yahya Hakki, guru sekaligus teman dialog. Kemudian dilanjutkan pemutaran film biografi Yahya Hakki (1905-1990), yang juga seorang pengacara dan diplomat.

“Acara seperti ini biasa diadakan AUC Press setiap ada buku baru yang turun ke pasar,” kata Nabila Akl, Manajer Promosi AUC Press. Kafe Riche memang bukan kedai biasa. Warga Mesir mengenalnya sebagai kafe sastra yang masih bertahan di Kairo. Kalangan sastrawan, politisi, dan seniman sering menghabiskan waktu duduk dan berdiskusi di situ.

Jika seorang di antara mereka meninggal, atau meluncurkan karya, komunitas sastrawan Kafe Riche akan menggelar acara. “Selasa 20 April lalu ada peringatan Ibrahim Manshur, sastrawan yang banyak mengkritik pemerintah,” kata Magdi. Sampai sekarang, setiap Jumat, Magdi masih mengadakan acara sarapan sastra bersama para penulis Mesir.

“Hitung-hitung meneruskan tradisi Naguib Mahfouz,” kata Magdi. Kafe Riche terletak di Bundaran Tal’at Harb, salah satu bundaran terkenal di Kairo. Di tengah bundaran itu berdiri patung Tal’at Harb, pionir ekonomi Mesir dan pendiri Bank Mesir. Mahasiswa Indonesia di Kairo akrab dengan bundaran itu, karena ada dua penerbit buku terbesar di sana.

Jika kita berdiri di depan patung Tal’at Harb, di belakang-kanan ada toko buku Madbouli, penerbit buku “kiri”, seperti karya Hassan Hanafi, Abid Al-Jabiri, dan Nasr Hamid. Di belakang-kiri ada Dar al-Shorouk, penebit buku “kanan”, seperti karya Mahmoud Shaltut, Mohamed Emarah, Yusuf Qardlawi, dan Sayyid Tantawi (Grand Syekh Al-Azhar saat ini).

Kafe Riche berada di belakang patung Tal’at Harb, di pinggir Jalan Tal’at Harb yang menuju bundaran Tahrir. Luas kafe bergaya klasik ini 400 meter persegi dengan dua lantai: lantai dasar dan ruang bawah tanah. Lantai dasar dibagi dua ruang utama: restoran dan ruang budaya (shalun tsaqafî).

Ruang bawah tanah berupa bar saat ini tidak dipakai lagi kecuali untuk acara tertentu. Sebelum Revolusi 1919, ruangan bawah tanah itu menjadi tempat pertemuan rahasia tokoh revolusi. Di dinding ruangan tersebut masih tersimpan rapi mesin tangan pencetak selebaran revolusi. Ruang rahasia itu punya pintu rahasia menuju luar gedung.

Kafe Riche berdiri pada 1908. Menurut seniman ternama Mesir, Muhyidin al-Labad, ritme kafe ini tak terpisahkan dari langgam sosial, politik, dan budaya Mesir yang penuh cerita dan mitos. Jika masuk kafe ini dari pintu depan dan menyeberangi koridor, mata Anda akan tertuju pada puluhan potret tokoh Mesir yang tergantung di dinding kafe.

Di antara puluhan potret tersebut terdapat foto sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz. Di bawah Mahfouz berjejer puluhan sastrawan, kritikus sastra, penulis sekenario, musisi, dan seniman Mesir. Foto Mahfouz terpampang bagaikan raja yang didampingi para menterinya.

Dari kalangan sastrawan ada potret Yahya Hakki, Abbas Akkad, Thaha Husein, dan Tawfik Hakim. Dari kalangan seniman ada penyanyi legendaris Mesir, Ummi Kultsum, dan penyair Ahmad Rami. Dari kalangan musisi ada Riyad Sunbathi, maestro lagu-lagu Ummi Kultsum. Sedangkan dari kalangan pelukis ada Rusydi Abdalah dan lain-lain.

Mesir memulai era modern pada masa Muhammad Ali Pasha (w. 1848) dan cucunya Ismail Pasha (1863-1879). Sejak itu, tidak sedikit putra-putra terbaik Sungai Nil dikirim ke Eropa. Bersamaan dengan itu, kafe-kafe di Mesir pun mulai menata diri. Sejak awal abad ke-20, kafe-kafe itu dipenuhi para tokoh terpelajar yang baru pulang dari Eropa.

Menurut Magdi Abd Mullak, kolonialisme Prancis sangat berkepentingan dengan kafe. “Kafe adalah bentuk perang kebudayaan yang dilancarkan Prancis setelah mereka gagal dalam perang militer,” kata Magdi. Maka, tidak sedikit kafe di Tunisia, Aljazair, dan Maroko didirikan kolonial Prancis yang mirip dengan Kafe Riche.

Pada awal abad ke-20 itu, tidak hanya Kafe Riche yang ramai dikunjungi. Ada Kafe Mitatea –saat ini sudah jadi garasi mobil– tempat diskusinya Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, Sa’ad Zaghlul, Qasim Amien, dan orator Revolusi 1919, Abdullah al-Nadim. Ada juga Kafe Opera dan Nubar, tempat berkumpulnya para wakil rakyat.

Lalu ada Kafe Continental, tempat pertemuan para jurnalis dan politisi. Serta Kafe Groby, sanggar dan panggung Ahmad Syauki Bek, “pangeran penyair” (amir syu’ara’) Mesir. Toh, menurut sejarawan Mesir modern, Abd Rahman Rifai, Kafe Riche-lah yang menjadi pusat pengaturan strategi revolusi 1919.

Buktinya di ruang bawah kafe ada ruang rahasia dan mesin cetak tangan yang dipakai menggandakan selebaran revolusi. Ruangan dan mesin tersebut baru ditemukan 80 tahun setelah revolusi. Tepatnya pada tahun 1992, ketika gempa bumi mendera Kairo dan beberapa sudut Kafe Riche direstorasi.

Pada era revolusi, Badan Intelijen Revolusi menyetujui rencana pembunuhan “boneka Inggris” Yusuf Wahba Pasha, Perdana Menteri Mesir saat itu, pada 15 Desember 1919. Di kafe ini pula ditunjuk seorang Kristen Koptik Mesir, Uryan Yusuf Saad, untuk memimpin operasi.

Seperti diceritakan Yasir Abd Hafidz dalam jurnal Akhbar Adab, Uryan melemparkan dua bom ke mobil Yusuf Pasha. Meskipun percobaan pembunuhan itu gagal, nama Kafe Riche tidak bisa lepas dari sejarah politik Mesir.

Setahun setelah Revolusi 1919, Kafe Riche menjadi pusat sastra Mesir. Seorang penulis naskah drama, Gukah Aziz Ied, mendiskusikan karyanya pada mereka yang hadir. Seniman-seniman terkemuka, seperti Saleh Abd Hayy dan Zaki Murad, ayah dari bintang film terkenal Mesir, Laila dan Munir Murad, juga ramai-ramai datang ke kafe ini.

Penyanyi legendaris Ummi Kultsum, pertama kali menggelar konser juga di pelataran kafe ini. Waktu itu, Ummi Kultsum masih memakai kostum sederhana laiknya gadis kampung. Meski begitu, konser Ummi Kultsum tidak gratis.

Ada iklan di koran Al-Muqattam edisi 30 Mei 1933, “Datanglah ke Kafe Riche pada hari Kamis Sore tanggal 31 Mei. Nikmati suara indah Nona Ummi Kultsum, segera pesan tempat Anda mulai sekarang, kursi eksekutif 15 piester, dan kursi umum 10 piester.”

Tahun 1943, seorang lelaki kulit hitam asal Nubia, Mohamed Husein Sadik, bergabung menjadi pelayan Kafe Riche. Sejak dulu para sastawan Mesir memanggilnya “Felfel” (lada). Nama “Felfel” sampai sekarang tetap menjadi panggilannya. Felfel pula yang melayani Naguib Mahfouz selama 17 tahun –sejak 1962– nongkrong di Kafe Riche.

Menurut Felfel, Mahfouz biasanya datang setiap jam 07.30, menghabiskan dua cangkir kopi pahit, sebelum berangkat ke kantornya, harian Al-Ahram. “Sambil minum kopi, Mahfouz baca koran pagi dan ngobrol dengan sastrawan-satrawan muda yang datang berkonsultasi,” kata Felfel.

Naguib Mahfouz menulis salah satu karyanya, Karnak, di atas meja kafe ini. Menurut Magdi, Mahfouz terilhami gedung yang terletak di samping Kafe Riche yang di puncaknya ada gambar Karnak (nama dewa Mesir kuno berbentuk burung). Selain melayani sastrawan, Felfel juga melayani tokoh politik.

Gamal Abd Naser dan Anwar Sadat berkali-kali datang ke Kafe Riche untuk mengikuti diskusi. “Seperti biasa, Gamal kan pendiam, dia tidak pernah memberi komentar, hanya menjadi pendengar setia,” kata Felfel. Sosok Felfel sekarang dijadikan maskot Kafe Riche. Gambarnya tergantung di dinding kafe menemani gambar-gambar tokoh Mesir.

Adapun Magdi tak mau dipotret dan direkam wawancaranya. “Cukup Felfel saja, dia adalah maskot kafe ini,” Magdi menegaskan. Beberapa pelajar Mesir yang pulang dari Eropa, seperti Thaha Husein, Luwis Ewad, Ramses Yunan, Abd Aziz Bisyri, Mohamed Mandour, dan Tawfik Hakim tercatat terlibat aktif dalam diskusi di Kafe Riche.

Sebagai tempat berkumpulnya tokoh-tokoh politik, Kafe Riche tidak luput dari pantauan intel penguasa. Menurut Pegy Robert, mahasiswi AUC, ayahnya adalah anggota State Security (badan keamanan nasional) yang dulu bertugas mengunjungi, mencatat, dan melaporkan hasil percakapan para pengunjung Kafe Riche.

Sejarah sastra dan budaya Mesir memang sulit dipisahkan dengan nama Kafe Riche. Pada 1968, lahir jurnal sastra bernama Galery dari kafe ini. Jurnal ini membawa angin perubahan yang membuai masyarakat Mesir kala itu. Jurnal Galery juga menjadi catatan sejarah hasil pertemuan tokoh-tokoh Mesir.

Pada 1972, dari kafe ini lahir seruan intelektual dan sastrawan mengkritisi kebijakan pemerintahan Sadat. Naguib Mahfuoz dan Tawfik Hakim ikut menandatangani seruan itu. Ketika Sadat mengunjungi Al-Quds dan berdamai dengan Israel, Ibrahim Mansur –kritikus sastra ternama– keluar dari Kafe Riche dan membawa poster di dada bertuliskan, “Tidak untuk Sadat.” Akibatnya, Ibrahim harus mendekam di penjara.

Karena khawatir pada wibawa Kafe Riche, penguasa Mesir pernah memerintahkan kafe ini tutup pada hari Jumat –hari libur resmi Mesir. Tujuannya mencegah masyarakat ramai berkunjung.

Catatan sejarah membuat kafe ini harus dikunjungi jika kebetulan Anda sempat datang ke Mesir. Suasana Kafe Riche memang istimewa. Sambil menikmati gambar-gambar di kafe ini, Anda bisa memilih beraneka minuman. Ada whisky, vodka, obelique red wine, atau Anda lebih suka Turkish coffee, atau teh lipton.

Untuk sarapan bisa mencoba Spanish omelette, atau roti dengan variety cheese. Untuk makan siang bisa merasakan kelezatan menu Mesir, farakh beni dengan Greek salad atau Russian salad. Oh ya, Anda yang peminat lagu Ummi Kultsum bisa meminta lagu di kafe ini. Sayang juga jika Anda tidak menyedot shisha di kafe ini karena shisha memberi aroma pada hidangan makanan.

Sekali lagi, jika Anda tengah berada di Mesir, jangan ragu-ragu minta antar sopir taksi ke Kafe Riche. Alamatnya, 17 Tala’at Harb, Kairo.

Mohamad Guntur Romli (Kairo)

Tags: Kisah

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

You must log in to post a comment.