I am still optimistic about the future of religious pluralism in Indonesia, my optimism comes from my faith that only religious pluralism will humanize human beings –the Jakarta Post, November 02, 2008
KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid meninggalkan pengaruh yang dalam pada saya, jauh sebelum saya menjadi penyiarnya di acara “Kongkow Bareng Gus Dur” tiap Sabtu di Utan Kayu. Pada awal tahun 1997, ketika saya baru lulus dari sebuah pesantren dan menjadi guru muda di pesantren itu, saya mengikuti sebuah pelatihan untuk guru dan santri se Jawa Timur. Sohibul bait-nya: Kajian 193 Universitas Islam Malang. Gus Dur hadir sebagai narasumber. Jujur saja waktu itu saya tak suka Gus Dur dan Nurcholish “Cak Nur” Madjid.
“Qanun Jinayat” yang telah diresmikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) tak henti menyulut kontroversi, yang tak hanya datang dari luar, namun juga dari masyarakat Aceh sendiri. Gubernur Aceh sendiri pun tak kunjung menyetujuinya. Bagi Pemerintah Aceh, prosedur “Qanun” ini cacat hukum. Sementara dari sisi subtansi, argumentasi “Qanun” ini amat rapuh.
Setiap mau masuk Ramadhan ucapan selamat datang bertubi-tubi. Baik melalui SMS atau email. Si pengirim kadang mengejutkan; bisa datang dari teman lawas yang sudah sekian lama tidak bersua, atau kawan-kawan yang berbeda agama. Mengharukan dan kadang menggelikan karena isinya macam-macam, dari pantun religi hingga gaya jenaka sembari mohon maaf. Padahal si pengirim tidak pernah berbuat salah pada saya, bertemu saja belum pernah, misalnya kenal di facebook, terasa aneh saja.
Setiap Ramadhan datang, saya selalu teringat pengalaman ketika kuliah di Mesir dulu. Hampir lima tahun saya meninggalkan negeri para Firaun dan kelahiran Musa itu, namun keunikan Ramadhan di sana selalu membawa romantisme sendiri. Saya berada di Mesir dari September 1998 hingga November 2004, bukan tempo yang singkat sehingga meninggalkan pengalaman yang unik dan tidak terlupakan.